“Kenapa dokter berikan data kalau saya sudah ada diabetes sejak 5 tahun yang lalu?” Kata si pasien marah-marah.
“Di rekam medis memang begitu. Bapak kan sudah jadi pasien diabetes saya 5 tahun?” Kata saya.
“Dokter kan bisa berbohong sedikit, mengatakan saya baru ketahuan DM saat saya kena pembusukan kaki kemarin.” Katanya kesal, “Saya baru masuk asuransi 5 bulan dok. Dan karena dokter bilang pembusukan kaki saya itu gara-gara diabetes dan diabetes saya sudah ketahuan sejak 5 tahun yang lalu, asuransi tidak mau menanggung biaya perawatan saya kemarin yang habis 25 jutaan,” Katanya kesal.
”Lho. Asuransi tidak mau menanggung komplikasi diabetes yang sudah bapak derita lama? Kenapa?Memangnya perjanjian asuransinya bagaimana” Tanya saya penasaran.
”Emmmm…Begini,dok. Saya tidak mengaku ada diabetes dan hipertensi. Saat dicek kesehatan saya kan makan semua obat kolesterol, darah tinggi dan diabetes jadinya semua normal.” Katanya agak gugup.
”Kenapa dirahasiakan,pak?” Tanya saya.
”Kalau ketahuan banyak penyakit, premi asuransi saya bisa nambah banyak dari yang standar. Rugi, dok..” Katanya akhirnya malu sendiri. Hilang deh marahnya.
”Ya, saya tidak bisa berbohong, pak. Profesi inilah hidup saya. Kalau saya berbohong dan asuransi mengadukan ke pengadilan lalu status bapak dibuka, terbukti bapak sudah 5 tahun DM, habis praktek saya. Saya mau menolong orang kalau saya yakin tidak bikin masalah dengan pertolongan itu. Mestinya bapak tidak berbohong punya banyak penyakit ke asuransi.” Kata saya mengingatkan.
”Ya, sudah. Terima kasih,lah. Tetapi saya kecewa dengan dokter..”Katanya lalu pergi.
Dan keputusan saya tidak menolong berbohong pasien DM tadi membuat dia tidak kontrol-kontrol lagi selama kurang lebih 1 tahun, sampai akhirnya minggu lalu datang lagi dengan muka pucat dan terlihat seperti 5 tahun lebih tua dari umurnya.
”Lho, bapak kenapa gula darahnya sudah 400 an begini? Tidak pernah berobat, ya setahun ini?” Tanyaku prihatin.
”Maaf, dok. Saya marah sekali dengan dokter soal asuransi tahun kemarin, jadi tidak mau lagi saya kontrol ke dokter. Saya ke dokter lain, dok. Tetapi pindah ke beberapa orang dokter, ternyata obat-obatannya paten semua. Jarang spesialis lain yang mau kasih obat generik seperti dokter. Saya bisa keluar biaya 800 ribuan tiap minggu menebus obat. Sedangkan dengan dokter paling-paling 300 ribu sebulan. Makanya saya tidak rutin makan obat, kalau sudah sakit sekali kepala dan badan baru berobat. Tetapi capek juga dengan kondisi begini, dok. Saya harus berobat rutin lagi kayaknya, jadi saya ke sini lagi. Gak papa,kan dok?” Katanya tidak enak hati.
”Ya, tidak masalah, sih pak. Untuk sakit kronis yang seumur hidup perlu makan obat seperti bapak, saya pasti dominan kasih obat generik. Apalagi pasti asuransi kemarin tidak bakalan mau lagi menanggung obat-obatan bapak, karena waktu pemeriksaan kesehatan bapak tidak mengaku punya penyakit, kan?” Kata saya, si pasien pun tersenyum malu tetapi legah juga saya tidak marah.
Saya jadi teringat teman saya seorang dokter gigi, dia mengasuransikan mobilnya dengan setengah hati. Minta si penilai harga menurunkan harga mobilnya yang seharusnya 250 juta menjadi 150 juta, dengan tujuan premi asuransinya lebih kecil. Tujuh bulan setelah diasuransikan, mobilnya hilang saat parkir di sebuah mall. Dan dia hanya mendapat ganti rugi 120 juta, 80% dari harga mobil yang dikarangnya. Dia pun menyesal,kenapa mesti menukang-nukangi harga mobil untuk mengurangi premi, seolah tidak yakin bakal terjadi apa-apa.
Nah, pasien satu ini pun mengakal-akali asuransi dengan mengaku tidak punya penyakit ’simpanan’ supaya bayar preminya lebih murah, dan inginkan dokternya membantu dia membohongi pihak asuransi kalau ada klaim perawatan sesuai penyakit lamanya.
Padahal asuransi pasti mempunyai tim penilai dan tim medis yang bisa memperkirakan apakah klaim tersebut layak ditanggung atau tidak sesuai perjanjian. Jika klaim ini dicurigai ada yang tidak beres dan sampai-sampai ke pengadilan lalu ketahuan si dokter berbohong demi membantu si pasien, maka dia bisa kehilangan ijin prakteknya, periuk nasinya. Bodoh sekali, kan?
Saran saya, sih. Jika anda mau mengikuti asuransi apapun dengan tujuan proteksi, sebaiknya ikhlas menjalani dan membayarnya sesuai ketentuan dan besarnya resiko. Asuransi itu seperti meminta doa, supaya jangan terjadi apa-apa dengan kita selama premi kita bayarkan dan kalau terjadi apa-apa pun ada pihak yang membantu mengganti kerugiannya.
Kalau yakin tidak bakal kena musibah dan mau hemat, sih, ya tidak usah ikut-ikutan asuransi. Toh tidak ikut juga tidak berdosa, kok…
disadur dari Kompasiana.com