Monday, February 25, 2013

Tips Pilih Proteksi

Bicara soal proteksi, baik itu perorangan atau keluarga, pasti memiliki prioritasnya sendiri. Kita semua mengambil langkah untuk menjaga segala hal yang kita anggap penting. Apalagi ketika menyangkut tentang hidup. Itu adalah sesuatu yang dating secara alami, sebuah naluri yang membantu kita untuk berencana, bekerja, dan bahkan berjuang untuk melestarikan apa yang kita cintai.
Memiliki asuransi artinya kita berproteksi. Meski demikian, belum tentu kita sudah bebas dari persoalan. Sebab, kenyataannya, proteksi tersebut tidak mencukupi. Segala aspek mengenai hidup perlu kita pertimbangkan. Pengetahuan soal besarnya antara perkiraan kebutuhan dan perlindungan yang tersedia sangat berguna dalam menganalisa kondisi kita.
Untuk memahami kebutuhan cakupan proteksi, untuk Anda yang bekerja, diperlukan perhatian khusus tentang jumlah proteksi yang disediakan oleh perusahaan. Adalah penting untuk memperhitungkan apakah jumlah proteksi yang diberkan oleh perusahaan sudah mencukupi seluruh kebutuhan setelah terjadi risiko?
Garis bawahi pernyataan “setelah terjadinya risiko”. Anda harus mampu membayangkan bagaimana perjalanan hidup 10 kali ke depan.
Jika perusahaan tempat Anda bekerja hanya memberkan asuransi jiwa dan asuransi rawat inap yang sangat minimum, Anda bisa memutuskan membeli asuransi rawat inap perseorangan, artinya terpisah.
Sehingga, misalnya saat Anda harus menjalani operasi besar yang membutuhkan biaya besar dengan segala hal-hal kecil yang tergandeng untuk kebutuhan medis, seluruh biaya operasi dan yang terkait di dalamnya dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi. [Sumber: berita-asuransi.com]

Saturday, February 23, 2013

Kapan Waktu untuk memiliki Asuransi + Investasi

Most people asked me when we should have insurance or investing instrument .

1. Muda sebelum tua
Semakin tinggi usia kita maka semakin besar risiko kita dari sisi kesehatan dan kematian. Setiap kita melewati 1 umur kita maka secara angka usia kita bertambah dan ini merupakan hukum yang pasti, tapi secara asuransi jiwa sebenernya usia kita berkurang krn semakin dekat dgn kematian.
Untuk ilustrasi di Asuransinya+Investasinya sbb :
 Jadi sangat wajar jika usia kita makin tinggi preminya makin tinggi pula. Misal usia  25 tahun premi/nabungnya 1jt/bulan, krn  menunda & baru ikut di usia 35 taun, maka untuk manfaat asuransi yg sama kita nabungnya harus lebih dari 1jt
a. Di prudential, tersedia asuransi yg disertai unit link   dan masa menabungnya hanya 10 tahun, tp manfaatnya sampai usia 99. Jd kalo kita start di usia 25, berarti stop di usia 35, yang berarti setelah itu kita sudah tidak perlu menabung lagi dan asuransi + proteski tetap melekat pada diri kita . Tp kalo start ikutnya
di usia 35, berarti sampe usia 45 . begiru seterusnya, yang intinya semakin muda semakin baik ...
b. Kemudian di usia 50, jumlah tabunganya  (investasi) sudah beda (lebih besar) dengan yg start nabung di usia 25 .
The Faster you have, The better the outcome

2. Sehat sebelum sakit
Pada dasarnya, asuransi tidak mengcover penyakit yang sudah ada pada diri seseorang. Jika orang tsb pernah mengalami sakit sebelumnya apa lagi sampai dirawat dirumah sakit, maka asuransi tidak bisa mengcover penyakit tersebut. Orang seperti ini disebut substandard atau orang yang memiliki risiko.
Oleh karena itu, sebelum risiko2 tsb muncul segeralah kita ikut asuransi. (Prinsip pertama : Setiap orang pasti pernah sakit)
Ada suatu kasus orang yang sangat kaya raya, namun karena pernah menderita penyakit kanker, walau dia berani membayar premi hingga ratusan juta, perusahaan asuransi tetap saja akan menolak orang tersebut. So, sekaya apapun agan, klo udah terkena risiko, maka kita tidak bisa ikut asuransi.

3. Kaya sebelum miskin
Dalam hal ini maksudnya mampu ketika tidak mampu. Jika sudah dirasa mampu segera lah memproteksi diri, soalnya kalo risiko itu udh terjadi, biayanya bakal jauh lebih besar daripada biaya ikut asuransi. Apa lagi kalo udah punya nilai aset yang besar, akan jauh lebih merasa rugi ketika risiko itu datang. Konsultasikanlah dengan agent tentang kemampuan finacial kita sehingga mendapatkan manfaat asuransi+investasi yang maksimal.


4. Hidup sebelum mati
Setiap orang pasti akan melalui tahap ini . Di sini kita bermaksud agar keluarga dan anak2 yang kita cintai hidupnya masih sejahtera dan bisa melanjutkan hidup meskipun kita sudah meninggalkannya.

5. Lapang sebelum sempit
Pandangan kita terhadap asuransi diharuskan tidak lah sempit. Hasil survei yang dilakukan Swiss Re tahun 2011 terhadap 1.000 orang kelompok usia 20 tahun hingga 40 tahun. Para responden ini tinggal di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan , sebanyak 40% responden itu mengatakan, keluarganya akan mengalami kesulitan keuangan bila terjadi kematian dini, penyakit serius atau cacat. Angka ini lebih tinggi ketimbang Singapura (30%), Malaysia (29%) dan India (24%).  Padahal angka orang yang ikut asuransi di Indonesia masih kecil dibandingkan dengan negara2 tetangga kita. Mengapa negara2 tetangga kita sangat peduli untuk berasuransi ?

So segeralah  berasuransi dan berinvestasi  ... thx

Kisah Seorang Pengusaha yang Dijemput Malaikat

Kisah Seorang Pengusaha yang Dijemput Malaikat

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Disaat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia Roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, “kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!

“Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . ” kata si pengusaha ini dengan yakinnya.
Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, “apakah besok pagi aku sudah pulih? pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit“.

Dengan lembut si Malaikat berkata, “anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktu mu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu”.

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Dilayar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka”.

Kata Malaikat, “aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu”

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh,” Tuhan,
aku tau kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tau dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tau dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalau pun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.”
dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat”.

Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini . . . timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat ! tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !

Dengan setengah bergumam dia bertanya, “apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?”

Jawab si Malaikat,’” ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogant, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah”.
Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, “anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00″.

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu?. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.
Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan.

Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tau tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri.

Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.

Doa sangat besar kuasanya, tak jarang kita malas, tidak punya waktu, tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama / keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia, mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.

Monday, February 18, 2013

Menjenguk Rumah Sakit (AJAHN BRAHM)

Sewaktu menjenguk seseorang di rumah sakit , banyak di antara kita yang menyapa, "Bagaimana rasanya hari ini ? "

Sebagai sebuah sapaan, betapa konyolnya ucapan itu ! Tentu saja mereka merasa bonyok, kalau tidak , pastilah mereka tidak berada di rumah sakit kan ? Terus kata-kata klise tersebut membuat pasien menjadi tertekan batin. Mereka tentu merasa kurang sopan kalau membuat penjenguk mejadi sedih dengan mengatakan bahwa keadaan mereka sebenarnya sedang payah. Bagaimana  mereka bisa mengecewakan seseorang yang telah susah payah datang menjenguk mereka di rumah sakit dengan menjawab jujur bahwa mereka kesakitan, payah, seperti teh celup bekas ? Oleh karena itu, mereka terpaksa berbohong , berkata , "saya merasa sudah baikan hari ini ", dengan perasaan bersalah bahwa mereka tidak dapat berbuat banyak untuk sembuh. Sungguh sayang, begitu banyak penjenguk rumah sakit justru membuat pasien lebih sakit !

Seorang biksuni Australia tradisi Tibet berada dalam keadaan sekarat akibet kanker di sebuah rumah sakit di Perth. Saya telah mengenalnyaselama beberapa tahun dan cukup sering menjenguknya. Suatu hari dia menelepon saya di Wihara, meminta agar saya menjenguknya hari itu juga karena dia merasa waktunya sudah dekat. Saya menghentikan segala kegiatan saya dan segera meminta seseorang mengantarkan saya ke rumah sakit di Perth yang berjarak tujuh puluh kilometer. Sewaktu saya minta izin besuk di resepsionis rumah sakit, perawat jaga mengatakan bahwa biksuni Tibet tersebut memberi perintah agar tak seorang pun diizinkan membesuknya.

"Tetapi saya sudah datang jauh-jauh khusus untuk membesuknya". saya berkata kalem.

"Maaf, salak perawat itu, "dia tidak ingin menerima siapapun dan kita semua harus menghormatinya".

"Mana mungkin," Protes saya, " dia telah menelepon saya sekitar satu setengah jam yang lalu dan meminta datang".

Perawat tua itu memelototi saya dan meminta saya untuk mengikutinya. Kami berhenti di depan kamar sang biksuni dan si perawat menunjuk sebuah kerta yang ditempel di pintunya yang tertutup, bertuliskan "TIDAK MENERIMA PENGUNJUNG".

"Lihar" Kata si perawat.

Begitu saya memeriksa kertas tersebut, saya membaca kata-kata lain, ditulis dengan huruf yang lebih kecil di bawahnya, "KECUALI AJANH BRAHM".

Akhirnya saya boleh masuk.

Saat saya bertanya kepada sang biksuni, mengapa dia menaruh kertas pengumuman tersebut dengan perkecualiaan, dia menjelaskan bahwa setiap kali teman dan kerabat datang menjenguknya, mereka sangat sedih dan tertekan menyaksikan keadaannya yang parah, dan itu membuat perasaannya menjadi lebih buruk. "Sekarat karena kanker sudah cukup parah ", katanya, "saya tidak ingin memperparahnya dengan masalah emosional para pembesuk saya !".

Kemudian dia berkata bahwa cuma sayalah satu-satunya teman yang memperlakukannya sebagai seorang pribadi, bukan sebagai seorang yang sekarat; yang tidak sedih melihatnya makin hari makin kurus dan loyo, yang malah menceritakan lelucon-lelucon dan membuatnya tertawa. Saat itu saya lantas menghiburnya dengan lelucon-lelucon selama jam berikutnya, sementara dia mengajarkan saya bagaimana menolong seorang teman yang sedang menghadapi kematian. Saya belajar darinya bahwa saat menjenguk seseorang dari rumah sakit, berbicaralah kepada pribadinya dan biarlah pernyakitnya menjadi pembicaraan dokter dan perawat saja.

Dia wafat kurang dari dua hari setelah kunjungan saya.

Disadur dari Buku AJAHN BRAHM "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya"