Most people asked me when we should have insurance or investing instrument .
1. Muda sebelum tua
Semakin tinggi usia kita maka semakin besar risiko kita dari sisi kesehatan dan kematian. Setiap kita melewati 1 umur kita maka secara angka usia kita bertambah dan ini merupakan hukum yang pasti, tapi secara asuransi jiwa sebenernya usia kita berkurang krn semakin dekat dgn kematian.
Untuk ilustrasi di Asuransinya+Investasinya sbb :
Jadi sangat wajar jika usia kita makin tinggi preminya makin tinggi pula. Misal usia 25 tahun premi/nabungnya 1jt/bulan, krn menunda & baru ikut di usia 35 taun, maka untuk manfaat asuransi yg sama kita nabungnya harus lebih dari 1jt
a. Di prudential, tersedia asuransi yg disertai unit link dan masa menabungnya hanya 10 tahun, tp manfaatnya sampai usia 99. Jd kalo kita start di usia 25, berarti stop di usia 35, yang berarti setelah itu kita sudah tidak perlu menabung lagi dan asuransi + proteski tetap melekat pada diri kita . Tp kalo start ikutnya
di usia 35, berarti sampe usia 45 . begiru seterusnya, yang intinya semakin muda semakin baik ...
b. Kemudian di usia 50, jumlah tabunganya (investasi) sudah beda (lebih besar) dengan yg start nabung di usia 25 .
The Faster you have, The better the outcome
2. Sehat sebelum sakit
Pada dasarnya, asuransi tidak mengcover penyakit yang sudah ada pada diri seseorang. Jika orang tsb pernah mengalami sakit sebelumnya apa lagi sampai dirawat dirumah sakit, maka asuransi tidak bisa mengcover penyakit tersebut. Orang seperti ini disebut substandard atau orang yang memiliki risiko.
Oleh karena itu, sebelum risiko2 tsb muncul segeralah kita ikut asuransi. (Prinsip pertama : Setiap orang pasti pernah sakit)
Ada suatu kasus orang yang sangat kaya raya, namun karena pernah menderita penyakit kanker, walau dia berani membayar premi hingga ratusan juta, perusahaan asuransi tetap saja akan menolak orang tersebut. So, sekaya apapun agan, klo udah terkena risiko, maka kita tidak bisa ikut asuransi.
3. Kaya sebelum miskin
Dalam hal ini maksudnya mampu ketika tidak mampu. Jika sudah dirasa mampu segera lah memproteksi diri, soalnya kalo risiko itu udh terjadi, biayanya bakal jauh lebih besar daripada biaya ikut asuransi. Apa lagi kalo udah punya nilai aset yang besar, akan jauh lebih merasa rugi ketika risiko itu datang. Konsultasikanlah dengan agent tentang kemampuan finacial kita sehingga mendapatkan manfaat asuransi+investasi yang maksimal.
4. Hidup sebelum mati
Setiap orang pasti akan melalui tahap ini . Di sini kita bermaksud agar keluarga dan anak2 yang kita cintai hidupnya masih sejahtera dan bisa melanjutkan hidup meskipun kita sudah meninggalkannya.
5. Lapang sebelum sempit
Pandangan kita terhadap asuransi diharuskan tidak lah sempit. Hasil survei yang dilakukan Swiss Re tahun 2011 terhadap 1.000 orang kelompok usia 20 tahun hingga 40 tahun. Para responden ini tinggal di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan , sebanyak 40% responden itu mengatakan, keluarganya akan mengalami kesulitan keuangan bila terjadi kematian dini, penyakit serius atau cacat. Angka ini lebih tinggi ketimbang Singapura (30%), Malaysia (29%) dan India (24%). Padahal angka orang yang ikut asuransi di Indonesia masih kecil dibandingkan dengan negara2 tetangga kita. Mengapa negara2 tetangga kita sangat peduli untuk berasuransi ?
So segeralah berasuransi dan berinvestasi ... thx
1. Muda sebelum tua
Semakin tinggi usia kita maka semakin besar risiko kita dari sisi kesehatan dan kematian. Setiap kita melewati 1 umur kita maka secara angka usia kita bertambah dan ini merupakan hukum yang pasti, tapi secara asuransi jiwa sebenernya usia kita berkurang krn semakin dekat dgn kematian.
Untuk ilustrasi di Asuransinya+Investasinya sbb :
Jadi sangat wajar jika usia kita makin tinggi preminya makin tinggi pula. Misal usia 25 tahun premi/nabungnya 1jt/bulan, krn menunda & baru ikut di usia 35 taun, maka untuk manfaat asuransi yg sama kita nabungnya harus lebih dari 1jt
a. Di prudential, tersedia asuransi yg disertai unit link dan masa menabungnya hanya 10 tahun, tp manfaatnya sampai usia 99. Jd kalo kita start di usia 25, berarti stop di usia 35, yang berarti setelah itu kita sudah tidak perlu menabung lagi dan asuransi + proteski tetap melekat pada diri kita . Tp kalo start ikutnya
di usia 35, berarti sampe usia 45 . begiru seterusnya, yang intinya semakin muda semakin baik ...
b. Kemudian di usia 50, jumlah tabunganya (investasi) sudah beda (lebih besar) dengan yg start nabung di usia 25 .
The Faster you have, The better the outcome
2. Sehat sebelum sakit
Pada dasarnya, asuransi tidak mengcover penyakit yang sudah ada pada diri seseorang. Jika orang tsb pernah mengalami sakit sebelumnya apa lagi sampai dirawat dirumah sakit, maka asuransi tidak bisa mengcover penyakit tersebut. Orang seperti ini disebut substandard atau orang yang memiliki risiko.
Oleh karena itu, sebelum risiko2 tsb muncul segeralah kita ikut asuransi. (Prinsip pertama : Setiap orang pasti pernah sakit)
Ada suatu kasus orang yang sangat kaya raya, namun karena pernah menderita penyakit kanker, walau dia berani membayar premi hingga ratusan juta, perusahaan asuransi tetap saja akan menolak orang tersebut. So, sekaya apapun agan, klo udah terkena risiko, maka kita tidak bisa ikut asuransi.
3. Kaya sebelum miskin
Dalam hal ini maksudnya mampu ketika tidak mampu. Jika sudah dirasa mampu segera lah memproteksi diri, soalnya kalo risiko itu udh terjadi, biayanya bakal jauh lebih besar daripada biaya ikut asuransi. Apa lagi kalo udah punya nilai aset yang besar, akan jauh lebih merasa rugi ketika risiko itu datang. Konsultasikanlah dengan agent tentang kemampuan finacial kita sehingga mendapatkan manfaat asuransi+investasi yang maksimal.
4. Hidup sebelum mati
Setiap orang pasti akan melalui tahap ini . Di sini kita bermaksud agar keluarga dan anak2 yang kita cintai hidupnya masih sejahtera dan bisa melanjutkan hidup meskipun kita sudah meninggalkannya.
5. Lapang sebelum sempit
Pandangan kita terhadap asuransi diharuskan tidak lah sempit. Hasil survei yang dilakukan Swiss Re tahun 2011 terhadap 1.000 orang kelompok usia 20 tahun hingga 40 tahun. Para responden ini tinggal di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan , sebanyak 40% responden itu mengatakan, keluarganya akan mengalami kesulitan keuangan bila terjadi kematian dini, penyakit serius atau cacat. Angka ini lebih tinggi ketimbang Singapura (30%), Malaysia (29%) dan India (24%). Padahal angka orang yang ikut asuransi di Indonesia masih kecil dibandingkan dengan negara2 tetangga kita. Mengapa negara2 tetangga kita sangat peduli untuk berasuransi ?
So segeralah berasuransi dan berinvestasi ... thx
No comments:
Post a Comment